Ramadan dan Lonjakan Harga

Di hari ketiga bulan Ramadan, aku jalan-jalan ke sebuah pasar tradsional untuk mencari beberapa keperluan dapur. Sayangnya, aku ternyata harus merevisi daftar belanjaan yang telah aku buat sebelumnya. Aku mencoret beberapa jenis barang yang rencananya akan aku beli, karena bujet yang tersedia di kantongku ternyata tidak mampu memenuhi semua rencana yang telah aku buat. Padahal, biasanya selalu cukup.

Seharusnya aku sudah bisa mengantisipasi kejadian ini sebelumnya, ini bisa disebut sebagai fenomena tahunan. Melonjaknya harga berbagai kebutuhan pokok masyarakat saat bulan Ramadan adalah sesuatu yang lumrah di negara ini. Negara yang konon adalah negara dengan populasi muslim terbesar di dunia.

Sebenarnya fenomena ini sangat sederhana. Tidak lebih dari teori ekonomi klasik tentang hukum permintaan dan penawaran yang sangat sederhana. Ketika permintaan akan suatu barang atau jasa meningkat di pasaran, maka akan disertai dengan kenaikan harga barang atau jasa tersebut. Sangat sederhana, di saat bulan Ramadan permintaan akan barang-barang tertentu, terutama bahan-bahan makanan akan tinggi, maka harga bahan-bahan makanan tersebut akan melonjak.

Efek domino dari fenomena ini adalah naiknya angka inflasi, dan menurunnya daya beli masyarakat. Ini akan semakin parah, jika tiba-tiba terjadi kelangkaan barang tertentu di pasaran. Kenaikan harga, bisa menggoda oknum-oknum tertentu untuk meraup keuntungan yang lebih besar dengan jalan menimbun barang yang sedang mahal tersebut. Bahkan untuk skala yang lebih besar, mungkin akan mengarah ke teori-teori konspirasi seperti shadow economy.

Apa itu Inflasi? Silahkan baca: Sensitifnya Angka Inflasi

Sebagai masyarakat, tentu yang bisa dilakukan hanyalah berhemat, atau mencari barang komplementer dari barang-barang yang sedang mahal tersebut. Ikan mahal ganti dengan tahu atau tempe, daging mahal ganti dengan bekicot, eh? Tapi, tentu itu bukan solusi dari pemerintah. Kalau pemerintah mengeluarkan solusi-solusi seperti itu, artinya pemerintahnya tidak mau repot. Padahal, pemerintah memang dibebani untuk repot urusan rakyatnya. Betul kan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *