Recehan

Putaran roda waktu bukan hanya dapat menjawab segalanya, tapi juga bisa merubah seuatu, bahkan merubah pendirian manusia. Seperti sosok tegap nan kekar yang berdiri gagah di bawah terik matahari itu, sahabatku sejak kecil.

Entah kapan mulainya, aku sendiri tidak bisa mengingatnya, yang aku tahu adalah ketika kaki-kaki kecil kami berlari menelusuri jalan ini untuk mengumpulkan recehan dengan jalan berjualan permen dan tissue, sejak itulah kami selalu bersama, dengan segala suka dan duka.

Satu peristiwa yang tidak mungkin aku lupakan, siang itu dengan terik matahari yang hampir sama. Aku sedang asyik menawarkan permen dan tissue pada kendaraan-kendaraan yang singgah di lampu merah. Lumayan banyak yang laku, dan membuatku semakin bersemangat. Semakin banyak yang laku, semakin banyak pembeli beras dan lauk yang bisa aku berikan pada emak, syukur-syukur emak mau membelikan sepotong ayam goreng kesukaannku.

“Lari…, lari…” Tiba-tiba suasana menjadi riuh dengan suara teriakan yang saling bersahutan dengan sempritan. Para pengasong berhamburan ke segala arah seperti di kejar hantu.

“Lari Rul, cepat lari! Ada Satpol PP,” sahabatku itu lansung menarik tanganku tanpa memperdulikan aku yang lagi sibuk menghitung recehan untuk uang kembalian seorang pengendara motor yang membeli permen dariku.

Akibat tarikannya yang kuat, uang recehan yang sedang kuhitung berhamburan di aspal.

“Tunggu dulu, uangku jatuh,” aku mencoba melepaskan tarikannya.

“Tidak ada waktu lagi. Sudah, biarkan saja!”

“Enak saja, ini hasil kerjaku hampir seharian berpanas-panasan di sini.”

“Sudah, lupakan saja, itu gampang…”

“Gampang apanya? Ini jatah makan aku dan emakku untuk besok, kau bilang gampang? Tidak ada yang gampang bila kau hidup dalam kemiskinan,” aku menghempaskan tangannya.

“Tapi,Rul…”

“Tapi apa? Sudah kau lari saja, aku akan memungut uangku dulu.”

Ia tidak lari, ia malah membungkuk membantuku memungut recehan yang berhamburan itu. Tinggal beberapa recehan lagi yang harus kami pungut, ketika tangan-tangan kekar tiba-tiba memiting lengan kami. Kuatnya pitingan itu membuat lengan-lengan kecil kami sangat kesakitan, sehingga recehan yang ada di tangan kami kembali berhamburan di jalan aspal.

“Lepaskan, aku mau mengambil uangku dulu,” aku berteriak-teriak sambil berontak mencoba melepaskan tanganku.

Tangan-tangan kekar itu tidak peduli, semakin keras aku berontak, semakin keras pula tangan-tangan kekar itu memiting lenganku.

Aku melihat sahabatku itu telah lebih dulu dinaikkan ke truk bersama pengasong lain yang tertangkap. Aku juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi, para Satpol PP itu tidak peduli pada tangisanku agar dibiarkan untuk mengumpul kembali recehanku. Dengan kasar mereka mendorongku naik ke atas truk. Tanganku terasa sakit akibat kerasnya pitingan, tapi hatiku lebih sakit melihat recehanku yang berhamburan di aspal, recehan jatah makanku dan emak esok hari.

Kami digelandang ke kantor Satpol PP, disuruh berjalan jongkok dari pintu gerbang dan dikumpulkan di tengah lapangan, nama kami di daftar satu-satu, dan diceramahi tentang berbagai aturan yang tak satu pun kami fahami, tapi yang paling menyakitkan adalah semua dagangan kami di sita agar tidak bisa berjualan lagi. Setelah semua proses itu, akhirnya kami diizinkan untuk pulang.

“Kenapa kita tidak diperbolehkan mengasong? Kita Cuma berdagang, kita tidak mencopet, dan kita tidak berbuat kriminal,” aku belum bisa menerima tindakan Satpol PP tadi, aku masih marah kehilangan recehan yang kukumpulkan satu demi satu dengan bersimbah keringat.

“Katanya, bungkus permen dan tissue yang kita jual mengotori jalanan,…”

“Bukan! Bukan bungkus permen dan tissue itu yang mereka anggap mengotori jalanan, tapi kita, kita yang mereka anggap mengotori jalanan. Kita tidak lebih dari sampah di mata mereka!” Aku menumpahkan amarahku padanya. Aku marah, karena dia sepertinya bisa menerima alasan dari para Satpol PP tadi.

“Kamu beruntung, uang hasil jerih payahmu masih utuh, sedangkan uangku? Kau lihat sendiri, uang itu berhamburan di jalan, dan mereka tidak mau memberi sedikit waktu, walau hanya sekedar memungut kembali uang-uang itu.”

Dia hanya terdiam menatapku, tidak berkomentar, mungkin takut emosiku akan meluap kembali.

“Itu uang untuk jatah makan kami besok, dan entah bagaimana aku harus menjelaskannya pada emak. Apalagi kalau emak tahu daganganku disita semua, pasti emak akan semakin sedih.”

“Ini semua salahku Rul,” ucapnya sambil tertunduk.

Aku diam, tidak menanggapinya.

“Aku yang menarik tanganmu sehingga membuat recehanmu berhamburan di aspal,” sambungnya.

Aku tetap diam, tapi dalam hatiku membenarkan apa yang dia ucapkan. Bahkan sebagian hatiku ingin marah padanya, sangat ingin menyalahkannya.

“Ini ambil saja,” tiba-tiba dia melunsurkan kantongan permen yang berisi beberapa lemabar uang kertas dan sebagian besar recehan ke tanganku.

“Apa maksudmu?” Aku kaget, dan menarik tanganku.

“Terimalah Rul, agar aku tidak dihantui oleh rasa bersalah. Semoga bisa menutupi uang makanmu dan juga untuk modal ngasong besok.”

“Ini bukan salahmu, ini salah para Satpol PP itu.”

“Ini salahku Rul, terimalah dan maafkan aku,” dia kembali menyodorkan uang itu untukku.

Tidak ada jalan lain bagiku selain menerima uang itu. Uang yang lebih dari cukup untuk membeli dua liter beras untuk makanku dan emak besok, juga beberapa bungkus permen dan tissue untuk kujual kembali besok.

Aku bingung, mau merasa senang atau biasa-biasa saja. Untuk sesaat masalahku selesai, tapi pantaskah aku menerima hasil kerja kerasnya seharian ini?

Kami berpisah dipertigaan yang memisahkan jalan ke rumah kami masing-masing. Perpisahan kami sore itu, ternyata menjadi perpisahan kami selama-lamanya, karena sejak itu aku tidak pernah melihatnya lagi ikut mengasong. Aku sangat menyesal, karena aku tidak sempat mengucapkan terima kasih kepadanya.

Menurut cerita tetangganya yang juga pengasong, malam itu ayahnya marah besar padanya karena tidak membawa pulang uang sepeserpun.

“Kau tahu, dia keluar rumah dengan kepala berdarah. Aku duga, dia baru saja dipukul dengan balok kayu.”

“Mana ada orang tua yang sekejam itu pada anaknya?” potongku, tak percaya.

“Betul, tapi ayahnya itu adalah ayah tiri yang berhati binatang, apalagi jika habis minum minuman keras.”

Aku khawatir mendengar cerita itu, dimanakah dia berada saat ini? Apakah dia baik-baik saja? Semoga…

***

Awalnya aku tak mengenalnya, tapi tatapan matanya itu, tatapan sendu, teduh dan melindungi. Badannya sudah tidak seringkih dulu, kini dia berdiri tegap, otot-otot lengannya kekar, dibalut seragam hijau dengan beberapa tanda pangkat yang melekat di bahu dan dadanya. Dia berdiri sambil mengawasi anak buahnya yang berkejar-kejaran dengan beberapa pengasong yang lari terbirit-birit. Kini dia adalah seorang komandan Satpol PP.

Aku memandangnya dari seberang. Ya, kami sekarang betul-betul berseberangan, selain berseberangan jalan, kami juga berseberangan pendapat. Dia komandan Satpol PP, sedangkan aku dan beberapa teman membuat yayasan untuk membina dan mengadvokasi anak-anak jalanan.

Seorang anak meronta-ronta dalam tangkapan anak buahnya. Anak itu meronta dengan sangat kerasnya, sehingga recehan yang ada di kotak asongannya berhamburan. Aku bagai melihat diriku sendiri sedang meronta-ronta dalam tangkapan Satpol PP.

“Bawa anak itu ke mobil!” Perintahnya.

Si anak buah patuh, dan dengan setengah memaksa dia membawa si anak ke mobil truk yang sudah hampir penuh dengan pengasong dan pengamen yang tidak sempat lari lagi.

Dia berdiri mematung menatap recehan yang berhamburan, sejenak dia beralih menatapku dan tatapan kami bertemu untuk beberapa saat, kemudian dia membungkuk dan memunguti satu per satu recehan yang berhamburan itu. Setelah yakin tidak ada lagi yang tersisa, dia melangkah menuju ke truk dan menyerahkan seluruh recehan itu kepada si anak yang meronta-ronta tadi.

Dia kembali menatapku, dan perlahan senyum mengembang di bibirnya. Aku pun membalas senyumnya.

“Terima kasih,” ucapku lirih, sambil mengangkat tinggi-tinggi spanduk dengan tulisan penolakan terhadap perlakuan diskriminasi yang menimpa anak-anak jalanan.

Dia boleh memakai seragam apapun, tapi dia tidak pernah berubah, aku akan tetap mengenal dia sebagai sahabatku. Ya, dia tetaplah sahabatku yang dulu.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *